Rabu, 27 Maret 2024

 

KERETA +62 YG MENCEKAM

 

Sudah 2 kali saya mencoba KRL bogor line (Rute Citayam – Jakarta Kota). Pengen tahu perasaan saya ? its just like flying on the sky. Dorong-dorongan, sikut-sikutan dan beragam perlakuan lain. Betapa sakitnya para perempuan, penderita asma ataupun penyandang pobia sempit, pasti sangat menahan diri. Kuat sekali mereka. Saya yg meyakini punya kekuatan otot yg besar, kalah juga dg kekuatan masa yg berebut ruangan kurang dari 1 m persegi (menghela nafas). Saya melihat Ibu-ibu dan mbak-mbak yg pasrah dg menghela nafas panjang seakan tak kuat dg cobaan hidup menuju kantor yg harus dilalui 5 hari seminggu atau 20 hari sebulan.

 


(Cerita saat didalam). Kondisinya seperti air di lautan, terombang ambing layaknya ombak. “Ampun pak sopir saya tidak kuat”, itu mungkin jeritan hati penumpang yg bisa saya tebak. Sumpah itu sudah parah sekali. 1 gerbong dinaiki oleh ratusan umat, sangat tidak aman dan tidak nyaman. Kejadian yg saya temukan dan ceritakan ini tentu sudah terjadi bertahun – tahun, apakah tidak ada solusi ?  bagaimana jika ditambah gerbong ? itu mungkin solusi logis yg bisa jadi penumpang lain mau ya. Tapi apa daya, optimis nya adalah mungkin pemerintah sedang mempersiapkan skenario terbaik untuk menyelesaikan masalah massive ini. Bismillah lah ya. Saya sih akan terus menunggu… Semangat para pejuang rupiah…..

Minggu, 16 Desember 2012

ANAK LEBIH BISA BERKARYA DENGAN PILIHANNYA


ANAK LEBIH BISA BERKARYA DENGAN PILIHANNYA

Sejak usia dini anak telah memiliki harapan yang didasari oleh pemikiran subyektif orangtua, saat berusia matang (>15 th), mereka mulai mengerti tentang harapan yang mandiri (berasal dari diri mereka) dan lambat laun melepaskan ketergantungan dari orangtua. Anak bersikeras dengan pilihannya baik dalam menentukan pendidikan maupun pekerjaaan, alasannya karena antara mereka dan orangtua memiliki minat dan bakat serta pola pikir yang tidak sama, dalam hal ini orangtua tidak bisa memaksakan kehendak, mengharuskan anak untuk mengikuti polanya, karena bisa berakibat fatal bagi si anak.
Hal demikian juga tidak bisa diartikan sebagai bentuk durhaka terhadap orangtua, orangtua harus memahami dan mengerti tentang kondisi diri anak, yang jelas anak telah mempertimbangkan dengan matang sebelum mengambil pilihan, karena mereka yakin, dengan pilihannya, mereka bisa mandiri dan kreatif, yang berimbas pada peningkatan derajat dan kualitas hidup, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat, contoh nyata adalah Bob Sadino, beliau adalah pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan, tetapi orangtuanya adalah seorang guru, Bob Sadino tidak pernah disuruh untuk mempunyai profesi yang sama seperti orang tuanya, karena orang tuanya menyadari bahwa terdapat perbedaan minat dan bakat, beliau diberikan kebebasan untuk memilih, terbukti Bob Sadino bisa sukses dengan menciptakan karya berupa lapangan pekerjaan.